Just another WordPress.com site

ASKEP COMUNITY WTS

BAB I

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian

WTS adalah seseorang yang mempunyai mata pencaharian dengan cara memberikan pelayanan seksual di luar perkawinan kepada siapa saja dari jenis kelamin berbeda yang tujuannya adalah untuk mendapatkan imbalan berupa uang

WTS adalah salah satu bentuk prilaku yang menyimpang dimasyarakat yaitu prilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Penyimpangan adalah perbuatan yang mengabaikan norma, dan penyimpangan ini terjadi jika seseorang tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat.

B. Penyebab

Banyak hal menyebabkan seorang perempuan bekerja menjadi PSK. Diantaranya adalah:

1. akibat kegagalan dalam perkawinan

2. karena tekanan ekonomi.

Meskipun bekerja sebagai PSK dianggap melanggar norma dan moralitas, namun sebagai individu mereka tidak dapat terlepas dari lingkungan sosialnya. Untuk itu diperlukan adanya proses penyesuaian diri. dalam interaksinya mereka berusaha menutupi pekerjaan sebagai PSK, terutama di lingkungan keluarga dan tempat tinggal, untuk menghindari keterasingan dari lingkungan tersebut. Penyesuaian diri yang dilakukan bersifat pasif, mereka menyesuaikan diri dengan bersikap dan bertingkah laku layaknya individu lain di lingkungan tersebut. Ditinjau dari teori Haber dan Runyon, penyesuaian diri yang mereka lakukan tidak memenuhi keseluruhan karakteristik penyesuaian diri yang sehat.

C. Faktor pendukung

1. Adanya kecenderungan menghancurkan diri

2. Adanya nafsu seksual yang abnormal

3. Tekanan ekonomi

4. Aspirasi material (materialistis)

5. Kompensasi terhadap perasaan inferior

6. Rasa ingin tahu yang besar

7. Memberontak terhadap otoritas orang tua

8. Pengalaman seksual di masa anak

9. Tergiur bujukan laki-laki hidung belang atau calo

10. Banyaknya stimulasi seksual

11. Broken home

12. Pengaruh narkoba

(Kartono, 2001)

D. JENIS-JENIS WTS

1. PELACURAN TERORGANISIR

a. WTS berada di bawah pengawasan langsung mediatornya seperti germo, mucikari, mami.

b. Termasuk di dalamnya: lokalisasi WTS, panti pijat plus dan tempat-tempat yang mengusahakan wanita panggilan.

c. Aktivitasnya tergantung pada mucikari, penjaga keamanan atau agen lainnya yang membantu mereka untuk berhubungan dengan calon pelanggan serta melindungi dalam kondisi bahaya.

d. Berbagi hasil dengan mediator.

2. PELACURAN YANG TIDAK TERORGANISIR

a. WTS mencari pelanggannya sendiri tanpa melalui mediator. Langsung transaksi dengan pelanggan.

b. Termasuk di dalamnya: perempuan jalanan, perempuan lainnya yang beroperasi secara gelap di tempat umum, wanita panggilan yang bekerja mandiri, ayam kampus, wanita simpanan.

c. Tempat: mal, diskotik, pub, café, dsb

d. Posisinya lemah saat menghadapi pelecehan baik dari pelanggan atau perazia

e. Tidak perlu berbagi hasil dengan mediator

3. KATEGORI LAIN

a. Pergundikan (istri simpanan)

b. Tante girang

c. Wanita panggilan

d. Wanita pelayan bar/diskotik/night club

e. ABG Juvenile delinquence

f. WTS ABG -> siswa SMP, SMA

g. “Penggali emas” -> wanita cantik (pramugari, artis atau aktris yang mengeruk kekayaan orang-orang berduit

h. Hostest (pramuria) -> night club

E. KARAKTERISTIK

1. Atraktif, bermake up semenarik mungkin

2. Sebagian besar masih muda (11-25 th) -> walau ada juga yang sudah dewasa – tua

3. Pakaiannya seronok bahkan eksentrik

4. Bersifat sangat mobile -> sering berpindah tempat dengan cepat, menggunakan nama samaran, berasal dari daerah lain

5. Tingkat IQ yang rendah (WTS kelas bawah)

6. Latar belakang pendidikan buruk (WTS kelas bawah), pendidikan menengah ke atas (WTS kelas atas)

 

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian I

Di lokalisasi SK terdapat 30-an tempat hunian PSK, setiap hunian terdapat 6 PSK. Terdapat 80% PSK yang tidak pernah cek kesehatannya, 20% PSK positif GO, 15% PSK positif sifilis, 8% di indikasi AIDS. Kesadaran pencegahan penyakit menular sangatlah rendah.

Di dapatkan data :

– Jumlah PSK di lokalisasi SK 180

– 80% PSK mengaku tidak pernah cek kesehatannya

– Terdapat 20% PSK positif GO

– Terdapat 15% PSK positif sifilis

– Terdapat 8% PSK terindikasi AIDS

– Menurut pengakuan, kesadaran akan penyakit menular sangatlah rendah

Pengkajian II

Tempat pelayanan kesehatan ± 4 Km dari tempat lokalisasi SK. Dari keterangan PSK pendidikan mereka sangat rendah, di dapatkan data 20% lulusan SMA, 25% lulusan SMP, 35% lulusan SD dan 20% tidak sekolah. 50% merokok, 10% memakai narkoba, 20% minum minuman keras/alkohol. Dari keterangan PSK yang memakai pengaman (kondom) 40%.

Di dapatkan data :

– Tempat pelayanan kesehatan ± 4 Km

– Tingkat pendidikan rendah, diantaranya 20% lulusan SMA, 25% lulusan SMP, 35% lulusan SD dan 20% tidak sekolah

– 50% merokok, 10% memakai narkoba, 20% minum minuman keras/alkohol

– PSK yang memakai pengaman (kondom) 40%.

 

DAFTAR PUSTAKA

Depsos RI. 1999. Petunjuk Teknis Kemitraan Depsos Dengan Lembaga

Sosial  Kemasyarakatan (LKS). Jakata: Direktorat Bina Keesjahteraan Sosial Anak,Keluarga

dan Lanjut Usia.

Entjang, indan, dr.2000. ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta : citra aditya bakti

Margono S. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta.

http://id Wikipedia.org/wiki/usaha_kesehatan_sekolah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: