Just another WordPress.com site

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian

Anemia adalah penurunan dibawah normal dalam jumlah eritrosit banyaknya hemoglobin atau volume sel darah merah (packed red cell) dalam darah. (Dorland, 1998 : 49).

Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. (Brunner & Suddart, 2002 : 395 ).

Suatu tanda dengan hemoglobin kurang dari 12 gr%, eritrosit atau hematokrit kurang dari normal. (Mubin, 2001 : 428).

Penurunan kadar hemoglobin menurunkan jumlah pembawa O2 dalam darah, individu bernafas dengan lebih cepat untuk meningkatkan penghantaran O2. (Perry A. Potter, 2005 : 790).

2. Etiologi

a. Produksi sel darah merah yang tidak adekuat

b. Sel darah merah premature atau penghancuran sel darah merah yang berlebihan

c. Kehilangan darah

d. Kekurangan nutrisi

e. Faktor keturunan

3. Klasifikasi Anemia

1. Anemia mikrositik hipokrom terdapat dua jenis yaitu:

a. Anemia defisiensi besi

Kebutuhan Fe dalam makanan sekitar 20 mg sehari, dari jumlah ini hanya kira – kira 2 mg yang diserap. Jumlah total Fe dalam tubuh berkisar 2 sampai 4 g, kira – kira 50 mg/ kg BB pada pria dan mg/kg BB pada wanita.

Etiologi

Anemia ini umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik, di Indonesia paling banyak disebabkan oleh investasi cacing tambang (ankilostomiasis). Infestasi cacing tambang pada seseorang dengan makanan yang baik tidak akan menimbulkan anemia. Bila disertai mal nutrisi, baru akan terjadi anemia. Penyebab lain dari anemia ini adalah :

– Diet yang tidak mencukupi

– Absorbsi yang menurun

– Kebutuhan yang meningkat kepada kehamilan atau laktasi

– Perdarahan pada saluran cerna, menstruasi, donor darah

– Hemoglobinuria

– Penyimpanan besi yang berkurang seperti pada hemosiderosis paru.

 

Manifestasi klinis :

Gejala – gejala umum anemia, defisiensi Fe yang berat akan mengakibatkan perubahan kulit dan mukosa yang progresif, seperti lidah yang halus keilosis dan sebagainya, didapatkan tanda – tanda mal nutrisi.

 

Penatalaksanaan :

Ø Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai

Ø Pemberian preparat Fe

– Fero sulfat 3 x 325 mg secara oral dalam keadaan perut kosong, dapat dimulai dengan dosis yang rendah dan dinaikkan terhadap pada pasien dinaikkan yang tidak kuat, dapat diberikan bersama makanan.

– Fero glukonat 3 x 200 mg secara oral sehabis makan. Bila terdapat intoleransi terhadap pemberian preparat Fe oral atau gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan oral. Dapat diberikan secara parental dengan dosis 250 mg Fe (3 mg/ kgBB) untuk tiap 9% penurunan kadar Hb dibawah normal.

– Iron dekstran mengandung Fe 50 mg/ml, diberikan secara intramuskuler mula – mula 50 mg/ ml, kemudian 100 sampai 250 mg tiap 1 sampai 2 hari sampai dosis botol total sesuai perhitungan, dapat pula diberikan intravena, mula – mula 0,5 ml sebagian dosis percobaan bila dalam 3 sampai 5 menit tidak menimbulkan reaksi, boleh diberikan 250 sampai 500 mg.

 

b. Anemia pada penyakit kronik

Anemia ini dikenal pula dengan nama sideropenik anemia with reticulo endothelial siderosis. Anemia pada penyakit kronik merupakan jenis anemia terbanyak kedua setelah anemia defisiensi yang dapat ditemukan pada orang dewasa di Amerika Serikat.

Etiologi :

– Penyakit ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi seperti infeksi ginjal, paru (Bronkiektasis, abses, empiema, dll)

– Inflamasi kronik, seperti arthritis, rheumatoid.

– Neoplasma seperti limfoma, malignum dan nekrosis jaringan.

 

Manifestasi klinis:

Berat ringannya anemia berbanding lurus dengan aktivitas penyakit. Hematokrit biasanya berkisar antara 25 sampai 30%, biasanya normositik atau normokrom. Apabila disertai dengan penurunan kadar besi dalam serum atau saturasi transferin, anemia akan berbentuk hemokrom mikrositik. Kadar feritin dalam serum normal atau meningkat, leukosit dan hitung jenisnya normal.

 

Penatalaksanaan:

Terapi terutama ditujukan pada penyakit dasarnya, pada anemia yang mengancam nyawa, dapat diberikan tranfusi darah merah (packed red cell) seperlunya. Pengobatan dengan suplementasi besi, tidak diindikasikan, kecuali untuk mengatasi anemia pada arthritis rheumatoid, pemberian kobalt dan eritropoitin dikatakan dapat memperbaiki anemia pada penyakit kronik.

 

2. Anemia makrositik

a. Anemia defisiensi vitamin B12

Kekurangan vitamin B12 bisa disebabkan oleh faktor intrinsic dan faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 akibat faktor intrinsic terjadi karena gangguan absorbsi vitamin yang merupakan penyakit herediter autoimun. Sehingga pada pasien mungkin dijumpai penyakit – penyakit autoimun lainnya. Kekurangan vitamin B12 karena faktor intrinsic ini tidak dijumpai di Indonesia, yang lebih sering dijumpai di Indonesia adalah penyebab intrinsic karena kekurangan masukan vitamin B12 dengan gejala – gejala yang tidak berat.

Manifestasi Klinik

Didapatkan adanya anorexia, diare, dyspepsia, lidah yang licin, pucat dan agak ikterik terjadi gangguan neurologis, biasanya dimulai dengan parestesia, lalu gangguan keseimbangan dan pada kasus yang berat terjadi perubahan fungsi serebral, demensia dan perubahan neurosikiatrik lainnya.

Penatalaksanaan

Pemberian vitamin B12 1.000 mg/ hari selama 5 sampai 7 hari, 1 kali tiap bulan.

 

b. Anemia defisiensi asam folat

Asam folat terutama terdapat dalam daging, susu dan daun-daunan hijau. Umumnya berhubungan dengan mal nutrisi penurunan absorbsi asam folat jarang ditemukan karena absorbsi terjadi diseluruh saluran cerna, juga berhubungan dengan serosis hepatis karena terdapat penurunan cadangan asam folat.

Manifestasi Klinik

Gejala dan tanda pada anemia defisiensi asam folat sama dengan anemia defisiensi vitamin B12 yaitu anemia megaloblastik dan perubahan megaloblastik pada mukosa, mungkin dapat ditemukan gejala – gejala neurologis, seperti gangguan kepribadian dan hilangnya daya ingat.

Penatalaksanaan

Meliputi pengobatan terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan pula dengan pemberian atau suplementasi asam folat oral 1 mg/ hari.

 

3. Anemia karena perdarahan

Anemia karena perdarahan terbagi atas :

a. Perdarahan akut

Mungkin timbul ranjatan bila pengeluaran darah cukup banyak sedangkan penurunan kadar Hb baru terjadi beberapa hari kemudian.

Penatalaksanaan

v Mengatasi perdarahan

v Mengatasi ranjatan dengan tranfusi darah atau pemberian cairan perinfus.

 

b. Perdarahan kronik

Pengeluaran darah biasanya sedikit – sedikit sehingga tidak diketahui pasien, penyebab yang sering antara lain ulkus peptikum menometroragi, perdarahan saluran cerna karena pemakaian analgesik dan epitaksis, di Indonesia sering karena infestasi cacing tambang.

Pemeriksaan Laboratorium

Gambaran anemia sesuai dengan anemia defisiensi Fe, perdarahan pada saluran cerna akan memberi hasil positif pada test bensidin dari tinja.

Etiologi

Etiologinya anemia hemolitik dibagi sebagai berikut:

[ Intrinsik

– Kelainan membran, seperti sferositosis herediter, hemoglobinuria noktural paroksismal

– Kelainan glikolisis, seperti defisiensi pinfat kinase

– Kelaian enzim, seperti defisiensi glukosa posfat dehidrogenase (G6PD)

– Hemoglobinopati, seperti anemia sel sabit, methemoglobinemia

 

[ Ektrinsik

– Gangguan sistem imun, seperti pada penyakit autoimun, penyakit limfoproliferatif keracunan obat.

– Mikroangiopati, seperti pada purpura trombotik trombositopenik koagulasi intravaskuler diseminata (KID).

– Infeksi seperti akibat plasmodium, klostridium, borelia

– Hipersplenisme

– Luka bakar

 

Manifestasi Klinik

Tanda – tanda hemolisis antara lain ikterus dan splenomegali

 

Penatalaksanaa

Penatalaksanaan anemia hemolitik disesuaikan dengan penyebabnya. Bila karena reaksi toksis – imunologik yang didapat diberikan adalah kortikosteroit (Prednison, prednisolon) kalau perlu dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak berhasil dapat diberikan obat – obat sitostatik seperti klorambusil dan siklorofospamit.

4. Anemia hemolitik

Anemia hemolitik autoimun (autoimmune hemolytic anemia/AIHA) merupakan kelainan darah yang didapat, dimana auto anti bodi Ig6 yang dibentuk terikat pada membran sel darah merah (SDM). Antibodi ini umumnya berhadapan langsung dengan komponen dasar dari sistem Rh dan sebenarnya dapat terlihat pada SDM semua orang.

Manifestasi Klinik

Anemia ini bervariasi dari yang ringan sampai yang berat (mengancam jiwa). Pasien mengelufatig dan keluhan ini dapat terlihat bersama dengan angina atau gagal jantung kongestif.

Penatalaksanaan

Terapi inisial dengan menggunakan prednison 1 sampai 2 mg/ kgBB/ hari dalam dosis terbagi ,jika terjadi anemia yang mengancam hidup tranfusi darah harus diberikan dengan hati – hati keputusan untuk melakukan tranfusi harus melalui konsultasi dengan ahli hematology terlebih dahulu. Apabila prednison tidak efektif dalam menanggulangi kelainan ini atau penyakit mengalami kekambuhan dalam periode tapeingoffdari prednison, maka dianjurkan untuk dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak menolong maka di lakukan terapi dengan menggunakan berbagai jenis obat imunosupresif. Imunoglobin dosis tinggi intra vena (500 mg/kg BB/hari selama 1 – 4 hari) mungkin mempunyai efetivitas tinggi dalam mengontrol hemolisis namun efek pengobatan ini hanya sebentar (1 – 3 minggu) dan sangat mahal harganya. Dengan demikian pengobatan ini hanya digunakan pada situasi gawat darurat dan bila pengobatan dengan prednison merupakan kontra indikasi.

5. Anemia aplastik

Terjadi karena ketidaksanggupan sum – sum tulang untuk membentuk sel – sel darah.

Etiologi

Penyebabnya bisa congenital (jarang) idiopatik (kemungkinan autoimun). LES kemo terapy radio terapy, toksin, seperti benzen toluene insektisit, obat – obat seperti kloramfenikol, sulfonamid, analgesik (pira solon ) antiepileptik (hidantan) kinakrin dan sulfonilurea, pasca hepatitis, kehamilan dan hemoglobinuria paroksimal nocturnal

Manifestasi Klinik

Pasien tampak pucat,lemah mungkin timbul demam purpura dan perdarahan.

Penatalaksanaan

– Tranfusi darah

– Atasi komplikasi (infeksi) dengan antibiotik, hiegien yang baik perlu mencegah timbulnya infeksi.

– Kortikosteroid dosis rendah mungkin bermanfaat pada perdarahan akibat trombositopenia berat.

– Androgen seperti flukri mesteron testosteron metadrostenolon dan non drolon efek samping yang mungkin terjadi virilisasi retensi air dan garam perubahan hati dan amenore.

– Imunosupresif seperti siklosporin globulin antitimosit champlin dkk menyarankan penggunaanya pada pasien > 40 tahun yang tidak dapat menjalani tranplantasi sum – sum tulang dan pada pasien yang telah mendapat tranfusi mberulang – Tranplantasi sum – sum tulang. (Arif Manjoer, 1999 : 547)

4. Patofisiogi

Timbul anemia mencerminkan adanya kegagalan sum – sum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum – sum (misalnya berkuangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat berkurangnya nutrisi, pajanan toksis, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui, sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Pada kasus yang disebutkan berakhir masalahnya dapat akibat defect sel merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama pada sel fagositik atau dalam sistem retikulo endothelial, terutama dalam hati dan limfa. sebagian hasil samping proses ini bilirubin yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran darah setiap kenaikan distruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi) normalnya 1 mg/dl atau kurang kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sklera. Apabila sel darah merah mengalami penghancuran pada sirkulasi, seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasma melalui kapoasitas heptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikatan semuanya, (misalnya apabila jumlahnya lebih dari sekitar 100 mg/dl) hemoglobin akan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urine (Hemoglobinuria) jadi ada dan tidaknya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada pasien hemolisis yang dapat merupakan petunjuk mengetahui sifat proses heholisis tersebut. Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien tertentu disebabkan oleh penghancuran sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar :

a. Hitung retikulo sistem dalam sirkulasi darah

b. Derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sum – sum tulang dan cara pemotonganya, seperti yang terlihat dengan biopsy.

c.  Ada atau tidaknya hiperbilirubin benemia dan hemoglobinemia.

Eritropoesis (produksi sel darah merah) dapat ditentukan dengan mengukur kecepatan dimana injeksi besi tadi ocictive dimasukan ke sirkulasi eritrosit, rentang hidup sel darah merah pasien (Kecepatan hemolisis ) dapat diukur dengan menandai sebagian diantaranya dengan injeksi kromium radio aktif dan mengikuti sampai bahan tersebut menhilang dari sirkulasi darah selama beberapa hari sampai minggu metode tentang bagaimana membedakan kegagalan sum – sum tulang tertentu dengan jenis lainnya. (Brunner & Suddart, 2000 : 357)

5. Evaluasi Diagnosa

Berbagai uji hematokrit dilakukan untuk menentukan jenis dan penyebab anemia. Uji tersebut meliputi kadar hemoglobin dan hemotokrit, indeks sel darah, penelitian sel darah darah putih.Kadar besi serum pengukuran kapasitas ikatan besi ,kadar folat vitamin B12 hitung trobosit. Waktu protumbin dan waktu troboplastin palsial, aspirasi dan biopsy sum – sum tulang dapat dilakukan. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan diaknostik untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronik serta sumber kehilangan darah kronis. (Brunner & Suddart, 2000 : 935)

6. Pemeriksaan Penunjang

Berbagai uji hematologis dilakukan untuk menentukan jenis dan penyebab anemia.Uji tersebut meliputi kadar hemoglobin dan hematikrit, indeks sel darah merah.Penelitian sel darah putih, kadar besi serum, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, lulung trombosit. Waktu perdarahan, waktu protrombin dan waktu tromboplastin parsial. Aspirasi dan biopsy sum – sum tulang dapat di lakukan selain itu perlu dilakukan pemeriksaan diaknostik untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis (Brunner & Suddart, 2002 : 936)

7. Komplikasi

Komplikasi anemia meliputi gagal jantung, parestesia dan kejang pada setiap tingkat anemia pasien dengan penyakit jantung cenderung lebih besar kemungkinan mengalami angina atau segala gagal jantung kongestif dari pada seseorang yang tidak mempunyai penyakit jantung. (Brunner & Suddart, 2002 : 937)

8. Penatalaksanaan

a. Terapi umum

b. Istirahat

c. Diet,disesuaikan dengan penyebabnya bila tidak diketahui diberi saja makanan bergizi dan mengandung cukup Fe/lek strak hepar.

d. Medika mentosa, obat pertama sesuai penyebabnya Sulfat 3×1 tablet, anemia berat dan akut Hb rendah (< 7 gr%) sebaiknya diberi tranfusi darah.

BAB II

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

1. Pengkajian pertama

Didesa melati terdapat 58 ibu hamil, usia kehamilantrimester I 23 orang, trimester II 15 orang dan 20 orang trimester III. 58 ibu hamil tersebut terdapat 29 yang mengalami anemia, yang sudah pernah dirawat dirumah sakit karena anemia 5 orang. Pendidikan rata – rata rendah, kunjungan ketenaga kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya masih kurang.

2. Pengkajian kedua

Menurut keterangan dari bidan desa dan puskesmas desa melati dalam 1 tahun ini terdapat 29 ibu hamil yang mengalami anemia dari 58 ibu hamil di desa tersebut dan menurut bidan desa tersebut ada 5 ibu hamil yang pernah dirawat di rumah sakit. Adapun usia kehamilannya yaitu trimester I sebanyak 23 orang, trimester II sebanyak 15 orang dan trimester III 20 orang. Rata – rata ibu hamil tersebut berpendidikan rendah sehingga mereka beranggapan periksa kepetugas kesehatan atau bidan desa itu mahal sehingga kunjungan ibu hamil kurang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: