Just another WordPress.com site

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian

Anemia adalah penurunan dibawah normal dalam jumlah eritrosit banyaknya hemoglobin atau volume sel darah merah (packed red cell) dalam darah. (Dorland, 1998 : 49).

Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. (Brunner & Suddart, 2002 : 395 ).

Suatu tanda dengan hemoglobin kurang dari 12 gr%, eritrosit atau hematokrit kurang dari normal. (Mubin, 2001 : 428).

Penurunan kadar hemoglobin menurunkan jumlah pembawa O2 dalam darah, individu bernafas dengan lebih cepat untuk meningkatkan penghantaran O2. (Perry A. Potter, 2005 : 790).

2. Etiologi

a. Produksi sel darah merah yang tidak adekuat

b. Sel darah merah premature atau penghancuran sel darah merah yang berlebihan

c. Kehilangan darah

d. Kekurangan nutrisi

e. Faktor keturunan

3. Klasifikasi Anemia

1. Anemia mikrositik hipokrom terdapat dua jenis yaitu:

a. Anemia defisiensi besi

Kebutuhan Fe dalam makanan sekitar 20 mg sehari, dari jumlah ini hanya kira – kira 2 mg yang diserap. Jumlah total Fe dalam tubuh berkisar 2 sampai 4 g, kira – kira 50 mg/ kg BB pada pria dan mg/kg BB pada wanita.

Etiologi

Anemia ini umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik, di Indonesia paling banyak disebabkan oleh investasi cacing tambang (ankilostomiasis). Infestasi cacing tambang pada seseorang dengan makanan yang baik tidak akan menimbulkan anemia. Bila disertai mal nutrisi, baru akan terjadi anemia. Penyebab lain dari anemia ini adalah :

– Diet yang tidak mencukupi

– Absorbsi yang menurun

– Kebutuhan yang meningkat kepada kehamilan atau laktasi

– Perdarahan pada saluran cerna, menstruasi, donor darah

– Hemoglobinuria

– Penyimpanan besi yang berkurang seperti pada hemosiderosis paru.

 

Manifestasi klinis :

Gejala – gejala umum anemia, defisiensi Fe yang berat akan mengakibatkan perubahan kulit dan mukosa yang progresif, seperti lidah yang halus keilosis dan sebagainya, didapatkan tanda – tanda mal nutrisi.

 

Penatalaksanaan :

Ø Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai

Ø Pemberian preparat Fe

– Fero sulfat 3 x 325 mg secara oral dalam keadaan perut kosong, dapat dimulai dengan dosis yang rendah dan dinaikkan terhadap pada pasien dinaikkan yang tidak kuat, dapat diberikan bersama makanan.

– Fero glukonat 3 x 200 mg secara oral sehabis makan. Bila terdapat intoleransi terhadap pemberian preparat Fe oral atau gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan oral. Dapat diberikan secara parental dengan dosis 250 mg Fe (3 mg/ kgBB) untuk tiap 9% penurunan kadar Hb dibawah normal.

– Iron dekstran mengandung Fe 50 mg/ml, diberikan secara intramuskuler mula – mula 50 mg/ ml, kemudian 100 sampai 250 mg tiap 1 sampai 2 hari sampai dosis botol total sesuai perhitungan, dapat pula diberikan intravena, mula – mula 0,5 ml sebagian dosis percobaan bila dalam 3 sampai 5 menit tidak menimbulkan reaksi, boleh diberikan 250 sampai 500 mg.

 

b. Anemia pada penyakit kronik

Anemia ini dikenal pula dengan nama sideropenik anemia with reticulo endothelial siderosis. Anemia pada penyakit kronik merupakan jenis anemia terbanyak kedua setelah anemia defisiensi yang dapat ditemukan pada orang dewasa di Amerika Serikat.

Etiologi :

– Penyakit ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi seperti infeksi ginjal, paru (Bronkiektasis, abses, empiema, dll)

– Inflamasi kronik, seperti arthritis, rheumatoid.

– Neoplasma seperti limfoma, malignum dan nekrosis jaringan.

 

Manifestasi klinis:

Berat ringannya anemia berbanding lurus dengan aktivitas penyakit. Hematokrit biasanya berkisar antara 25 sampai 30%, biasanya normositik atau normokrom. Apabila disertai dengan penurunan kadar besi dalam serum atau saturasi transferin, anemia akan berbentuk hemokrom mikrositik. Kadar feritin dalam serum normal atau meningkat, leukosit dan hitung jenisnya normal.

 

Penatalaksanaan:

Terapi terutama ditujukan pada penyakit dasarnya, pada anemia yang mengancam nyawa, dapat diberikan tranfusi darah merah (packed red cell) seperlunya. Pengobatan dengan suplementasi besi, tidak diindikasikan, kecuali untuk mengatasi anemia pada arthritis rheumatoid, pemberian kobalt dan eritropoitin dikatakan dapat memperbaiki anemia pada penyakit kronik.

 

2. Anemia makrositik

a. Anemia defisiensi vitamin B12

Kekurangan vitamin B12 bisa disebabkan oleh faktor intrinsic dan faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 akibat faktor intrinsic terjadi karena gangguan absorbsi vitamin yang merupakan penyakit herediter autoimun. Sehingga pada pasien mungkin dijumpai penyakit – penyakit autoimun lainnya. Kekurangan vitamin B12 karena faktor intrinsic ini tidak dijumpai di Indonesia, yang lebih sering dijumpai di Indonesia adalah penyebab intrinsic karena kekurangan masukan vitamin B12 dengan gejala – gejala yang tidak berat.

Manifestasi Klinik

Didapatkan adanya anorexia, diare, dyspepsia, lidah yang licin, pucat dan agak ikterik terjadi gangguan neurologis, biasanya dimulai dengan parestesia, lalu gangguan keseimbangan dan pada kasus yang berat terjadi perubahan fungsi serebral, demensia dan perubahan neurosikiatrik lainnya.

Penatalaksanaan

Pemberian vitamin B12 1.000 mg/ hari selama 5 sampai 7 hari, 1 kali tiap bulan.

 

b. Anemia defisiensi asam folat

Asam folat terutama terdapat dalam daging, susu dan daun-daunan hijau. Umumnya berhubungan dengan mal nutrisi penurunan absorbsi asam folat jarang ditemukan karena absorbsi terjadi diseluruh saluran cerna, juga berhubungan dengan serosis hepatis karena terdapat penurunan cadangan asam folat.

Manifestasi Klinik

Gejala dan tanda pada anemia defisiensi asam folat sama dengan anemia defisiensi vitamin B12 yaitu anemia megaloblastik dan perubahan megaloblastik pada mukosa, mungkin dapat ditemukan gejala – gejala neurologis, seperti gangguan kepribadian dan hilangnya daya ingat.

Penatalaksanaan

Meliputi pengobatan terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan pula dengan pemberian atau suplementasi asam folat oral 1 mg/ hari.

 

3. Anemia karena perdarahan

Anemia karena perdarahan terbagi atas :

a. Perdarahan akut

Mungkin timbul ranjatan bila pengeluaran darah cukup banyak sedangkan penurunan kadar Hb baru terjadi beberapa hari kemudian.

Penatalaksanaan

v Mengatasi perdarahan

v Mengatasi ranjatan dengan tranfusi darah atau pemberian cairan perinfus.

 

b. Perdarahan kronik

Pengeluaran darah biasanya sedikit – sedikit sehingga tidak diketahui pasien, penyebab yang sering antara lain ulkus peptikum menometroragi, perdarahan saluran cerna karena pemakaian analgesik dan epitaksis, di Indonesia sering karena infestasi cacing tambang.

Pemeriksaan Laboratorium

Gambaran anemia sesuai dengan anemia defisiensi Fe, perdarahan pada saluran cerna akan memberi hasil positif pada test bensidin dari tinja.

Etiologi

Etiologinya anemia hemolitik dibagi sebagai berikut:

[ Intrinsik

– Kelainan membran, seperti sferositosis herediter, hemoglobinuria noktural paroksismal

– Kelainan glikolisis, seperti defisiensi pinfat kinase

– Kelaian enzim, seperti defisiensi glukosa posfat dehidrogenase (G6PD)

– Hemoglobinopati, seperti anemia sel sabit, methemoglobinemia

 

[ Ektrinsik

– Gangguan sistem imun, seperti pada penyakit autoimun, penyakit limfoproliferatif keracunan obat.

– Mikroangiopati, seperti pada purpura trombotik trombositopenik koagulasi intravaskuler diseminata (KID).

– Infeksi seperti akibat plasmodium, klostridium, borelia

– Hipersplenisme

– Luka bakar

 

Manifestasi Klinik

Tanda – tanda hemolisis antara lain ikterus dan splenomegali

 

Penatalaksanaa

Penatalaksanaan anemia hemolitik disesuaikan dengan penyebabnya. Bila karena reaksi toksis – imunologik yang didapat diberikan adalah kortikosteroit (Prednison, prednisolon) kalau perlu dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak berhasil dapat diberikan obat – obat sitostatik seperti klorambusil dan siklorofospamit.

4. Anemia hemolitik

Anemia hemolitik autoimun (autoimmune hemolytic anemia/AIHA) merupakan kelainan darah yang didapat, dimana auto anti bodi Ig6 yang dibentuk terikat pada membran sel darah merah (SDM). Antibodi ini umumnya berhadapan langsung dengan komponen dasar dari sistem Rh dan sebenarnya dapat terlihat pada SDM semua orang.

Manifestasi Klinik

Anemia ini bervariasi dari yang ringan sampai yang berat (mengancam jiwa). Pasien mengelufatig dan keluhan ini dapat terlihat bersama dengan angina atau gagal jantung kongestif.

Penatalaksanaan

Terapi inisial dengan menggunakan prednison 1 sampai 2 mg/ kgBB/ hari dalam dosis terbagi ,jika terjadi anemia yang mengancam hidup tranfusi darah harus diberikan dengan hati – hati keputusan untuk melakukan tranfusi harus melalui konsultasi dengan ahli hematology terlebih dahulu. Apabila prednison tidak efektif dalam menanggulangi kelainan ini atau penyakit mengalami kekambuhan dalam periode tapeingoffdari prednison, maka dianjurkan untuk dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak menolong maka di lakukan terapi dengan menggunakan berbagai jenis obat imunosupresif. Imunoglobin dosis tinggi intra vena (500 mg/kg BB/hari selama 1 – 4 hari) mungkin mempunyai efetivitas tinggi dalam mengontrol hemolisis namun efek pengobatan ini hanya sebentar (1 – 3 minggu) dan sangat mahal harganya. Dengan demikian pengobatan ini hanya digunakan pada situasi gawat darurat dan bila pengobatan dengan prednison merupakan kontra indikasi.

5. Anemia aplastik

Terjadi karena ketidaksanggupan sum – sum tulang untuk membentuk sel – sel darah.

Etiologi

Penyebabnya bisa congenital (jarang) idiopatik (kemungkinan autoimun). LES kemo terapy radio terapy, toksin, seperti benzen toluene insektisit, obat – obat seperti kloramfenikol, sulfonamid, analgesik (pira solon ) antiepileptik (hidantan) kinakrin dan sulfonilurea, pasca hepatitis, kehamilan dan hemoglobinuria paroksimal nocturnal

Manifestasi Klinik

Pasien tampak pucat,lemah mungkin timbul demam purpura dan perdarahan.

Penatalaksanaan

– Tranfusi darah

– Atasi komplikasi (infeksi) dengan antibiotik, hiegien yang baik perlu mencegah timbulnya infeksi.

– Kortikosteroid dosis rendah mungkin bermanfaat pada perdarahan akibat trombositopenia berat.

– Androgen seperti flukri mesteron testosteron metadrostenolon dan non drolon efek samping yang mungkin terjadi virilisasi retensi air dan garam perubahan hati dan amenore.

– Imunosupresif seperti siklosporin globulin antitimosit champlin dkk menyarankan penggunaanya pada pasien > 40 tahun yang tidak dapat menjalani tranplantasi sum – sum tulang dan pada pasien yang telah mendapat tranfusi mberulang – Tranplantasi sum – sum tulang. (Arif Manjoer, 1999 : 547)

4. Patofisiogi

Timbul anemia mencerminkan adanya kegagalan sum – sum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum – sum (misalnya berkuangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat berkurangnya nutrisi, pajanan toksis, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui, sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Pada kasus yang disebutkan berakhir masalahnya dapat akibat defect sel merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama pada sel fagositik atau dalam sistem retikulo endothelial, terutama dalam hati dan limfa. sebagian hasil samping proses ini bilirubin yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran darah setiap kenaikan distruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi) normalnya 1 mg/dl atau kurang kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sklera. Apabila sel darah merah mengalami penghancuran pada sirkulasi, seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasma melalui kapoasitas heptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikatan semuanya, (misalnya apabila jumlahnya lebih dari sekitar 100 mg/dl) hemoglobin akan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urine (Hemoglobinuria) jadi ada dan tidaknya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada pasien hemolisis yang dapat merupakan petunjuk mengetahui sifat proses heholisis tersebut. Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien tertentu disebabkan oleh penghancuran sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar :

a. Hitung retikulo sistem dalam sirkulasi darah

b. Derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sum – sum tulang dan cara pemotonganya, seperti yang terlihat dengan biopsy.

c.  Ada atau tidaknya hiperbilirubin benemia dan hemoglobinemia.

Eritropoesis (produksi sel darah merah) dapat ditentukan dengan mengukur kecepatan dimana injeksi besi tadi ocictive dimasukan ke sirkulasi eritrosit, rentang hidup sel darah merah pasien (Kecepatan hemolisis ) dapat diukur dengan menandai sebagian diantaranya dengan injeksi kromium radio aktif dan mengikuti sampai bahan tersebut menhilang dari sirkulasi darah selama beberapa hari sampai minggu metode tentang bagaimana membedakan kegagalan sum – sum tulang tertentu dengan jenis lainnya. (Brunner & Suddart, 2000 : 357)

5. Evaluasi Diagnosa

Berbagai uji hematokrit dilakukan untuk menentukan jenis dan penyebab anemia. Uji tersebut meliputi kadar hemoglobin dan hemotokrit, indeks sel darah, penelitian sel darah darah putih.Kadar besi serum pengukuran kapasitas ikatan besi ,kadar folat vitamin B12 hitung trobosit. Waktu protumbin dan waktu troboplastin palsial, aspirasi dan biopsy sum – sum tulang dapat dilakukan. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan diaknostik untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronik serta sumber kehilangan darah kronis. (Brunner & Suddart, 2000 : 935)

6. Pemeriksaan Penunjang

Berbagai uji hematologis dilakukan untuk menentukan jenis dan penyebab anemia.Uji tersebut meliputi kadar hemoglobin dan hematikrit, indeks sel darah merah.Penelitian sel darah putih, kadar besi serum, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, lulung trombosit. Waktu perdarahan, waktu protrombin dan waktu tromboplastin parsial. Aspirasi dan biopsy sum – sum tulang dapat di lakukan selain itu perlu dilakukan pemeriksaan diaknostik untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis (Brunner & Suddart, 2002 : 936)

7. Komplikasi

Komplikasi anemia meliputi gagal jantung, parestesia dan kejang pada setiap tingkat anemia pasien dengan penyakit jantung cenderung lebih besar kemungkinan mengalami angina atau segala gagal jantung kongestif dari pada seseorang yang tidak mempunyai penyakit jantung. (Brunner & Suddart, 2002 : 937)

8. Penatalaksanaan

a. Terapi umum

b. Istirahat

c. Diet,disesuaikan dengan penyebabnya bila tidak diketahui diberi saja makanan bergizi dan mengandung cukup Fe/lek strak hepar.

d. Medika mentosa, obat pertama sesuai penyebabnya Sulfat 3×1 tablet, anemia berat dan akut Hb rendah (< 7 gr%) sebaiknya diberi tranfusi darah.

BAB II

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

1. Pengkajian pertama

Didesa melati terdapat 58 ibu hamil, usia kehamilantrimester I 23 orang, trimester II 15 orang dan 20 orang trimester III. 58 ibu hamil tersebut terdapat 29 yang mengalami anemia, yang sudah pernah dirawat dirumah sakit karena anemia 5 orang. Pendidikan rata – rata rendah, kunjungan ketenaga kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya masih kurang.

2. Pengkajian kedua

Menurut keterangan dari bidan desa dan puskesmas desa melati dalam 1 tahun ini terdapat 29 ibu hamil yang mengalami anemia dari 58 ibu hamil di desa tersebut dan menurut bidan desa tersebut ada 5 ibu hamil yang pernah dirawat di rumah sakit. Adapun usia kehamilannya yaitu trimester I sebanyak 23 orang, trimester II sebanyak 15 orang dan trimester III 20 orang. Rata – rata ibu hamil tersebut berpendidikan rendah sehingga mereka beranggapan periksa kepetugas kesehatan atau bidan desa itu mahal sehingga kunjungan ibu hamil kurang.

Iklan

BAB I

TINJAUAN TEORI

 

A. PENGERTIAN

Neonatus (bayi baru lahir) adalah bayi yang baru lahir sampai usia 4 minggu lahir biasanya dengan usia gestasi 38-42 minggu (Wong, D,L, 2003).

Bayi baru lahir adalah bayi yang pada usia kelahiran 37-42 minggu dan berat badan 2.500-4.000 gram (Vivian, N. L. D, 2010).

Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama.

Setelah kelahiran sebagian besar bayi baru lahir akan menunjukkan usaha napas pernapasan spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan (prawiroharjo, S, 2002).

Jadi asuhan keperawatan pada bayi baru lahir adalah asuhan keperawatan yang diberikan pada bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri kekehidupan ekstra uteri hingga mencapai usia 37-42 minggu dan dengan berat 2.500-4.000 gram.

B. KARAKTERISTIK BAYI BARU LAHIR NORMAL

Adapun karakteristik pada bayi baru lahir normal adalah :

1. Usia 36-42 minggu.

2. Berat badan lahir mencapai 2500 gram sampai 4000 gram.

3. Dapat bernafas dengan teratur dan normal.

4. Organ fisik lengkap dan dapat berfungsi secara baik.

C. ADAPTASI FISIK BAYI BARU LAHIR NORMAL

Segera setelah bayi baru lahir, BBL harus diadaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang dialmi oleh bayi baru lahir yang semula berada dalam lingkungan interna ke lingkungan eksterna yang dingin dimana segala kebutuhannya memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Periode adaptasi terhadap kehidupan diluar rahim disebut periode transisi. Periode ini berlangsung selama 1 buan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa system tubuh. Transisi yang paling cepat terjadi adalah pada system pernapasan dan sirkulasi, system termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa.

1. Perubahan Sistem PernapasaN

Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik dari luar rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak. Tekanan terhadap rongga dada yang terjadi karena kompresi paru selama persalinan yang merangsang masuknya udara ke paru-paru secara mekanis. Interaksi system pernafasan, kardiovaskuler, dan sisitem saraf pusat menghasilkan pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru-paru, mengembangkan jaringan alveolus dalam paru-paru untuk pertama kali.

2. Perubahan Sistem Peredaran Darah

Setelah lahir, darah bayi harus melewati paru untuk mengambil oksigen untuk mengantarkannya ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim harus terjadi 2 perubahan besar yaitu, penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta. Oksigen menyebabkan pembuluh darah mengubah tekanan dengan cara mengurangi dan meningkatkan resistensinya hingga mengubah aliran darah.

3. Sistem Pengaturan Suhu

Suhu dingin dilingkungan luar menyebabkan air ketuban menguap melalui kulit sehingga mendinginkan darah bayi. Pebentukan suhu tanpa mengigil merupakan usaha seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya melalui penggunaan lemak coklat untuk produksi panas.

4. Metabolisme Glukosa

Untuk memfungsikan otak membutuhkan gkukosa dalam jumlah tertentu. Pada BBL, jumlah glukosa dalam darah akan turun dalam waktu cepat. BBL yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen.

5. Gastrointestinal

Reflek gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk pada saat lahir. Kemampuan menelan dan mencerna makanan terbatas pada bayi. Hubungan antara esophagus bawah dengan lambung masih belum sempurna. Kapasitas lambung juga terbatas yaitu kurang dari 30 cc dan akan bertambah secara lambat sesuai dengan pertumbuhan.

6. Kekebalan Tubuh

System imunitas pada BBL belum matang sehingga rentan terhadap infeksi. Kekebalan yang dimiliki oleh bayi antara lain :

a. Perlindungan kulit oleh membrane mukosa.

b. Fungsi jaringan saluran nafas.

c. Pembentukan koloni mikroba leh kulit dan usus.

d. Perlindungan kimia oleh asam lambung.

D. EFEK SAKIT PADA NEONATUS

Fase neonatus adalah fase yang sangat rawan akan hubungan ibu dan bayi. Karena kegagalan relasi pada masa ini akan memberi dampak pada tahap berikutnya. Kebutuhan psikologi fase ini melipurti tiga hal penting yaitu seeing (memandang), touching (sentuhan), dan caretaking (merawat dengan perhatian seluruh emosinya). Dengan demikian kesempatan ibu kontak mata dan menyentuh serta melakukan sendiri dalam mengganti popok adalah menjadi prioritas dalam intervensi perawat.

Penyakit atau kecacatan pada anak mempengaruhi terbinanya hubungan saling percaya antara anak dengan orangtua. Penyakit pada anak dapat membuat harapan orangtua menurun, penyakit sering mengakibatkan gangguan dalam kemampuan motorik anak, keterbatasan gerak di tempat tidur dan berkurangnya kontak bayi dengan lingkungan. Intervensi keperawatan sangat penting untuk membantu keluarga dalam menghadapi bayi yang sakit. Keberadaan perawat yang selalu siap membantu sangat penting untuk menenangkan orangtua terhadap rasa ketidak berdayaannya.

E. REAKSI EMOSIONAL PENERIMAAN KELUARGA

Pada neonatus yang menderita sakit, maka keluarga akan merasa cemas, tidak berdaya, dan lain sebagainya yang merupakan reaksi keluarga terhadap kenyataan bahwa bayinya menderita suatu penyakit. Berikut adalah reaksi emosional penerimaan keluarga terhadap neonatus sakit dan bagaimana perawat mengatasi hal tersebut :

1. Denial

Respon perawat terhadap penolakan adalah komponen untuk kebutuhan individu yang kontinyu sebagai mekanisme pertahanan. Dukungan metode efektif adalah mendengarkan secara aktif. Diam atau tidak ada reinforcement bukanlah suatu penolakan. Diam dapat diinterpretasikan salah, keefektifan diam dan mendengar haruslah sejalan dengan konsentrasi fisik dan mental. Penggunaan bahasa tubuh dalam berkomunikasi harus concern. Kontak mata, sentuhan, postur tubuh, cara duduk dapat digunakan saat diam sehingga komunikasi berjalan efektif.

2. Rasa bersalah

Perasaan bersalah adalah respon biasa dan dapat menyebabkan kecemasan keluarga. Mereka sering mengatakan bahwa merekalah yang menjadi penyebab bayinya mengalami kondisi sakit. Amati ekspresi bersalah, dimana ekspresi tersebut akan membuat mereka lebih terbuka untuk menyatakan perasaannya.

3. Marah

Marah adalah suatu reaksi yang sulit diterima dan sulit ditangani secara therapeutik. Aturan dasar untuk menolak marah seseorang adalah hindari gagalnya kemarahan dan dorong untuk marah secara assertif.

 

BAB II

STUDY KASUS

 

Pengkajian tahap 1 didapatkan data berikut :

DI desa A pada bulan ini terdapat 50 ibu melahirkan, persalinan ibu melahirkan ditolong oleh dukun bayi, tepat pada usia 28 hari setelah dilahirkan 32 dari 50 bayi mengalami hipotermi (35,2 – 36,1 ). Pada kejadian ini dukun bayi mengatakan itu hal yang biasa, Tingkat pengetahuan/pendidikan orang tua rata – rata rendah. Dari 32 bayi yang mengalami hipotermi ternyata 20% meninggal dunia. Didapatkan data sebagai berikut :

a. Terdapat 50 ibu melahirkan dan 50 bayi dilahirkan

b. Terdapat 32 dari 50 bayi yang mengalami hipotermi

c. Tingkat pendidikan/pengetahuan orang tua rendah

d. Dari 32 bayi yang mengalami hipotermi ternyata 20% meninggal dunia

 

Pengkajian tahap ke – 2 didapatkan data sebagai berikut :

Bayi yang mengalami hipotermi ( 35,1 – 36,1 ) 32 bayi, dikarenakan kurangnya pengetahuan orang tua untuk merawat bayinya dan terdapat 6 bayi (20%) meninggal dunia dari 32 bayi yang mengalami hipotermi.

Didapatkan data sebagai berikut :

a. Banyak warga yang tidak memanfaatkan tempat pelayanan kesehatan

b. Persalinan ibu ditolong oleh dukun bayi

c. Bayi mengalami hipotermi

d. Junlah bayi yang menderita hipotermi ( 32 bayi )

e. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenal masalah dan merawat bayi

f. Bayi meninggal dunia ( 6 bayi )

BAB I

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian

WTS adalah seseorang yang mempunyai mata pencaharian dengan cara memberikan pelayanan seksual di luar perkawinan kepada siapa saja dari jenis kelamin berbeda yang tujuannya adalah untuk mendapatkan imbalan berupa uang

WTS adalah salah satu bentuk prilaku yang menyimpang dimasyarakat yaitu prilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Penyimpangan adalah perbuatan yang mengabaikan norma, dan penyimpangan ini terjadi jika seseorang tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat.

B. Penyebab

Banyak hal menyebabkan seorang perempuan bekerja menjadi PSK. Diantaranya adalah:

1. akibat kegagalan dalam perkawinan

2. karena tekanan ekonomi.

Meskipun bekerja sebagai PSK dianggap melanggar norma dan moralitas, namun sebagai individu mereka tidak dapat terlepas dari lingkungan sosialnya. Untuk itu diperlukan adanya proses penyesuaian diri. dalam interaksinya mereka berusaha menutupi pekerjaan sebagai PSK, terutama di lingkungan keluarga dan tempat tinggal, untuk menghindari keterasingan dari lingkungan tersebut. Penyesuaian diri yang dilakukan bersifat pasif, mereka menyesuaikan diri dengan bersikap dan bertingkah laku layaknya individu lain di lingkungan tersebut. Ditinjau dari teori Haber dan Runyon, penyesuaian diri yang mereka lakukan tidak memenuhi keseluruhan karakteristik penyesuaian diri yang sehat.

C. Faktor pendukung

1. Adanya kecenderungan menghancurkan diri

2. Adanya nafsu seksual yang abnormal

3. Tekanan ekonomi

4. Aspirasi material (materialistis)

5. Kompensasi terhadap perasaan inferior

6. Rasa ingin tahu yang besar

7. Memberontak terhadap otoritas orang tua

8. Pengalaman seksual di masa anak

9. Tergiur bujukan laki-laki hidung belang atau calo

10. Banyaknya stimulasi seksual

11. Broken home

12. Pengaruh narkoba

(Kartono, 2001)

D. JENIS-JENIS WTS

1. PELACURAN TERORGANISIR

a. WTS berada di bawah pengawasan langsung mediatornya seperti germo, mucikari, mami.

b. Termasuk di dalamnya: lokalisasi WTS, panti pijat plus dan tempat-tempat yang mengusahakan wanita panggilan.

c. Aktivitasnya tergantung pada mucikari, penjaga keamanan atau agen lainnya yang membantu mereka untuk berhubungan dengan calon pelanggan serta melindungi dalam kondisi bahaya.

d. Berbagi hasil dengan mediator.

2. PELACURAN YANG TIDAK TERORGANISIR

a. WTS mencari pelanggannya sendiri tanpa melalui mediator. Langsung transaksi dengan pelanggan.

b. Termasuk di dalamnya: perempuan jalanan, perempuan lainnya yang beroperasi secara gelap di tempat umum, wanita panggilan yang bekerja mandiri, ayam kampus, wanita simpanan.

c. Tempat: mal, diskotik, pub, café, dsb

d. Posisinya lemah saat menghadapi pelecehan baik dari pelanggan atau perazia

e. Tidak perlu berbagi hasil dengan mediator

3. KATEGORI LAIN

a. Pergundikan (istri simpanan)

b. Tante girang

c. Wanita panggilan

d. Wanita pelayan bar/diskotik/night club

e. ABG Juvenile delinquence

f. WTS ABG -> siswa SMP, SMA

g. “Penggali emas” -> wanita cantik (pramugari, artis atau aktris yang mengeruk kekayaan orang-orang berduit

h. Hostest (pramuria) -> night club

E. KARAKTERISTIK

1. Atraktif, bermake up semenarik mungkin

2. Sebagian besar masih muda (11-25 th) -> walau ada juga yang sudah dewasa – tua

3. Pakaiannya seronok bahkan eksentrik

4. Bersifat sangat mobile -> sering berpindah tempat dengan cepat, menggunakan nama samaran, berasal dari daerah lain

5. Tingkat IQ yang rendah (WTS kelas bawah)

6. Latar belakang pendidikan buruk (WTS kelas bawah), pendidikan menengah ke atas (WTS kelas atas)

 

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian I

Di lokalisasi SK terdapat 30-an tempat hunian PSK, setiap hunian terdapat 6 PSK. Terdapat 80% PSK yang tidak pernah cek kesehatannya, 20% PSK positif GO, 15% PSK positif sifilis, 8% di indikasi AIDS. Kesadaran pencegahan penyakit menular sangatlah rendah.

Di dapatkan data :

– Jumlah PSK di lokalisasi SK 180

– 80% PSK mengaku tidak pernah cek kesehatannya

– Terdapat 20% PSK positif GO

– Terdapat 15% PSK positif sifilis

– Terdapat 8% PSK terindikasi AIDS

– Menurut pengakuan, kesadaran akan penyakit menular sangatlah rendah

Pengkajian II

Tempat pelayanan kesehatan ± 4 Km dari tempat lokalisasi SK. Dari keterangan PSK pendidikan mereka sangat rendah, di dapatkan data 20% lulusan SMA, 25% lulusan SMP, 35% lulusan SD dan 20% tidak sekolah. 50% merokok, 10% memakai narkoba, 20% minum minuman keras/alkohol. Dari keterangan PSK yang memakai pengaman (kondom) 40%.

Di dapatkan data :

– Tempat pelayanan kesehatan ± 4 Km

– Tingkat pendidikan rendah, diantaranya 20% lulusan SMA, 25% lulusan SMP, 35% lulusan SD dan 20% tidak sekolah

– 50% merokok, 10% memakai narkoba, 20% minum minuman keras/alkohol

– PSK yang memakai pengaman (kondom) 40%.

 

DAFTAR PUSTAKA

Depsos RI. 1999. Petunjuk Teknis Kemitraan Depsos Dengan Lembaga

Sosial  Kemasyarakatan (LKS). Jakata: Direktorat Bina Keesjahteraan Sosial Anak,Keluarga

dan Lanjut Usia.

Entjang, indan, dr.2000. ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta : citra aditya bakti

Margono S. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta.

http://id Wikipedia.org/wiki/usaha_kesehatan_sekolah.

BAB I

KONSEP DASAR

A. Definisi

Pidana atau tindak kriminal adalah segala sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan. Pelaku kriminalitas disebut seorang kriminal. Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang pencuri, pembunuh, perampok, atau teroris. Walaupun begitu kategori terakhir, teroris, agak berbeda dari kriminal karena melakukan tindak kejahatannya berdasarkan motif politik atau paham.

Selama kesalahan seorang kriminal belum ditetapkan oleh seorang hakim, maka orang ini disebut seorang terdakwa. Sebab ini merupakan asas dasar sebuah negara hukum: seseorang tetap tidak bersalah sebelum kesalahannya terbukti. Pelaku tindak kriminal yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan harus menjalani hukuman disebut sebagai terpidana atau narapidana.

Dalam mendefinisikan kejahatan, ada beberapa pandangan mengenai perbuatan apakah yang dapat dikatakan sebagai kejahatan. Definisi kejahatan dalam pengertian yuridis tidak sama dengan pengertian kejahatan dalam kriminologi yang dipandang secara sosiologis.

Secara yuridis, kejahatan dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang melanggar undang-undang atau ketentuan yang berlaku dan diakui secara legal. Secara kriminologi yang berbasis sosiologis kejahatan merupakan suatu pola tingkah laku yang merugikan masyarakat (dengan kata lain terdapat korban) dan suatu pola tingkah laku yang mendapatkan reaksi sosial dari masyarakat. Reaksi sosial tersebut dapat berupa reaksi formal, reaksi informal, dan reaksi non-formal.

Adapun tipe atau jenis-jenis kriminal menurut penggolongan para ahlinya adalah sebagai berikut :

1. Penjahat dari kecendrungan(bukan karena bakat)

2. Penjahat karena kelemahan(karena kelemahan jiwa sehingga sulit menghindarkan diri untuk tidak berbuat).

3. Penjahat karena hawa nafsu yang berlebihan dan putus asa.

B. Sebab terjadinya kriminal

1. Pertentangan dan persaingan kebudayaan

2. Perbedaan ideologi politik

3. Kepadatan dan komposisi penduduk

4. Perbedaan distribusi kebudayaan

5. Perbedaan kekayaan dan pendapatan

6. Mentalitas yang labil

C. Akibat

1. Merugikan pihak lain baik material maupun non material

2. Merugikan masyarakat secara keseluruhan

3. Merugikan negara

4. Menggangu stabilitas keamanan masyarakat

D. Solusi

  1. Mengenakan sanksi hukum yang tegas dan adil kepada para pelaku kriminalitas tanpa pandang bulu atau derajat
  2. Mengaktifkan peran serta orang tua dan lembaga pendidikan dalam mendidik anak
  3. Selektif terhadap budaya asing yang masuk agar tidak merusak nilai budaya bangsa sendiri
  4. Menjaga kelestarian dan kelangsungan nilai norma dalam masyarakat dimulai sejak dini melalui pendidikan multi kultural, seperti sekolah, pengajian dan organisasi masyarakat.

E. Penyebab Ketidakmunculan di Permukaan

1. Tidak ketahuan

2. Kerugian relatif kecil

3. Biaya penyelesaian lebih besar daripada kerugian yang diderita

4. Menurunkan citra

5. Menunjukkan adanya kelemahan pengamanan / proteksi

F. Bentuk Hukuman

1. Peringatan

· lisan (umumnya tertutup, Ex: militer)

· tertulis (ada arsip)

2. Kurungan / Penjara

· dengan masa percobaan

· kurungan

3. Mati

 

BAB II

PENGKAJIAN KASUS

A. Pengkajian

1. Pengkajian tahap 1

Kampung rambutan terdapat disebelah terminal antar provinsi setiap hari selalu terdapat perkelahian, pencurian, dan kriminal yang lain. Dalam 1 tahun terakhir 30 warga meninggal dari 5420 warga akibat perkelahian dll, 9% warga sudah pernah masuk BUI, 20% warga bertato.

2. Pengkajian tahap 2

Menurut keterangan dari kelurahan Rambutan, 1 tahun terakhir ini ada 30 anak remaja dari 5420 warga di kampung Rambutan yang meninggal karena perkelahian, sedangkan keterangan dari masyarakat sendiri ada 20% anak remaja yang bertato. Keterangan dari kepolisian 9% anak remaja sudah pernah masuk bui dan keterangan dari puskesma dalam 1 tahun terakhir ini di kampong rambutan ada 30% remaja yang luka-luka karena perkelahian. Rata-rata tindakan kriminalitas di lakukan oleh kaum remaja. Akibat perkelahian banyak warga yang dirugikan karena rusaknya lingkungan dan buruknya moralitas oknum remaja.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Apeldoom,Lj.Van.1981. Pengantar Ilmu Hukum,Pradnya Paramita hlm.13.Jakarta

Mustofa,Muhammad.2007.Kriminologi hlm:16.Depok. FISIP UI PRESS

Sahetapy,J.E.1979.Kapita Selekta Kriminologi hlm.67.Bandung.Alumni

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun reketsia tanpa atau disertai dengan radang parenkim paru.

ISPA adalah masuknya mikroorgamisme (bakteri, virus, riketsia) ke dalam saluran pernafasan yang menimbulkan gejala penyakit yang dapat berlangsung sampai 14 hari.

Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).

B. Etiologi

Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991; 1419).

Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A b-hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma dan pneumokokus.

Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu.

Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.

Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru.

Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).

Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus.

Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.

Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA.

Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.

Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A -hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae,b clamydia trachomatis, mycoplasma dan pneumokokus.

Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu.

Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.

Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru.
Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).

C. Patofisiologi

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus atau kuman golongan A streptococus, stapilococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumokokus yang menyerang dan menginflamasi saluran pernafasan (hidung, pharing, laring) dan memiliki manifestasi klinis seperti demam, meningismus, anorexia, vomiting, diare, abdominal pain, sumbatan pada jalan nafas, batuk, dan suara nafas wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan.

D. Tanda dan Gejala

Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451)

Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.

Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris.

1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.

2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.

3. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bahkan tidak mau minum.

4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.

5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.

6. Abdominal pain,  nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.

7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.

8. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419)

E. Penyebaran Penyakit

Pada ISPA, dikenal 3 cara penyebaran infeksi, yaitu:

1. Melalui areosol (partikel halus) yang lembut, terutama oleh karena batuk-batuk

2. Melalui areosol yang lebih berat, terjadi pada waktu batuk-batuk dan bersin

3. Melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda-benda yang telah dicemari oleh jasad renik.

F. Tingkat Penyakit ISPA

1. Ringan

Batuk tanpa pernafasan cepat atau kurang dari 40 kali/menit, hidung tersumbat atau berair, tenggorokan merah, telinga berair.

2. Sedang

Batuk dan napas cepat tanpa stridor, gendang telinga merah, dari telinga keluar cairan kurang dari 2 minggu. Faringitis purulen dengan pembesaran kelenjar limfe leher yang nyeri tekan (adentis servikal).

3. Berat

Batuk dengan nafas cepat dan stridor, membran keabuan di faring, kejang, apnea, dehidrasi berat atau tidur terus, tidak ada sianosis.

4. Sangat Berat

Batuk dengan nafas cepat, stridor dan sianosis serta tidak dapat minum.

G. Faktor Risiko

Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya ISPA:

1. Usia

Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah.

2. Status Imunisasi

Annak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap.

3. Lingkungan

Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.

H. Pencegahan

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada anak antara lain:

1. Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya dengan cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung cukup gizi.

2. Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh terhadap penyakit baik.

3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.

4. Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.

BAB II

STUDY KASUS

pengkajian tahap I data berikut :

Desa hantu terdapat 430 kaka terdapat1450 warga, 60% warga memelihara sapi, pembuangan kotoran sapi warga belum ada, 2 bulan terakhir 40% mengalami ispa 2% sinusitis, 3% mengalami asma, 3% warga meninggal karena ispa.

pengkajian tahap ke-2 didapatkan data sebagai berikut :

warga di desa hantu yang memelihara sapi 870 warga, warga membuang kotoran ternaknya di sembarang tempat. kerena kurangnya pengetahuan warga tentang bahaya membuang kotoran sembarangan di dapatkan warga yang mengalami ispa 384 orang, 17 orang mengalami sinusitis, 26 warga mengalami asma,dan 26 warga meninggal karena ispa.

di papatkan data sebagai berikut:

banyaknya warga tidak memanfaatkan tempat pelayanan kesehatan

jarak pelayanan kesehatan jauh (6km)

transportasi yang tidak memadahi ( tidak ada angkutan umum di desa hantu)

warga membuang kotoran ternaknya di sembarang tempat

kurang nya pengetahuan warga tentang membuang kotoran ternak di sembarang tempat

jumlah warga yang mengalmi ispa 870

waerga yang menderita sinusitis 17

warga yang mengalami asma 26

warga yang meninggal 3

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (Dhf) adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus (Arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (Aedes Albopictus Dan Aedes Aegepty)

B. Penyebab

Penyebab Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (Dhf) adalah Arbovirus (Arthropodborn Virus) melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty)

C. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :

  1. Meningkatnya suhu tubuh
  2. Nyeri pada otot seluruh tubuh
  3. Suara serak
  4. Batuk
  5. Epistaksis
  6. Disuria
  7. Nafsu makan menurun
  8. Muntah
  9. Ptekie
  10. Ekimosis
  11. Perdarahan gusi
  12. Muntah darah
  13. Hematuria masif
  14. Melena

D. Klasifikasi DHF

Klasifiksi DHF menurut WHO

  1. Derajat I

Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan (uji tourniquet positif)

  1. Derajat II

Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain.

  1. Derajat III

Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( 20 mmhg, kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi )

  1. Derajat IV

Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur

Pemeriksaan Diagnostik

  1. Darah Lengkap = Hemokonsentrasi (Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih) Thrombocitopeni (angka thrombosit 100. 000/ mmatau kurang)
  2. Serologi = Uji HI (hemaaglutinaion Inhibition Test)
  3. Rontgen Thorax = Effusi Pleura

E. Penatalaksanaan

a. Medik

1. DHF tanpa Renjatan

    1. Beri minum banyak ( 1 ½ – 2 Liter / hari )
    2. Obat antipiretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
    3. Jika kejang maka dapat diberi luminal ( anticonvulsan ) untuk anak <1 th dosis 50 mg IM dan untuk anak >1th 75 mg IM. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3 mg / Kg BB anak <1 th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ Kg BB.
    4. Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat

2. DHF dengan Renjatan

    1. Pasang infus RL
    2. Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB )
    3. Tranfusi jika Hb dan Ht turun

b. Keperawatan

1. Pengawasan tanda – tanda Vital secara kontinue tiap jam

    1. Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
    2. Observasi intike – output
    3. Pada pasien DHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3 jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari, beri kompres
    4. Pada pasien DHF derajat II : Pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
    5. Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri O2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, observasi produksi urine tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.

2. Resiko Perdarahan

    1. Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
    2. Catat banyak, warna dari perdarahan
    3. Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan Tractus Gastro Intestinal

3. Peningkatan suhu tubuh

    1. Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
    2. Beri minum banyak
    3. Berikan kompres

F. Pencegahan Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (Dhf)

Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan cara:

  1. Rumah selalu terang
  2. Tidak menggantung pakaian
  3. Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari sekali
  4. Kubur barang – barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air hujan
  5. Tutup tempat penampungan air

Perencanaan pemulangan dan Pendidikan Kesehatan

  1. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktifitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak
  2. Jelaskan terapi yang diberikan, dosis, efek samping
  3. Menjelaskan gejala – gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala
  4. Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan

BAB II

SOAL KASUS

Pengkajian tahap 1 didapatkan data berikut :

Desa keploko merupakan edemi demam berdarah, desa tersebut terdapat 4208 warga, 26 % anak, setiap tahun selalu ada yang menderita demam berdarah 1 tahun terakhir terdapat 5 % anak yang mengalami demam berdarah, lingkungan kotor, kesadaran warga kurang pengetahuan warga rendah.

Pengkajian tahap 2 di dapatkan data sebagai berikut :

Anak – anak di desa keploko sering menderita DB dan gatal – gatal.

· terdapat ( 26 ℅ / 1904 ) anak yang menderita DB

· 1 tahun terahir anak yang menderita DB ( 5℅ / 210 )

· Lingkungan desa yang kotor

· Kesadaran warga kurang

· Pengetahuan warga rendah

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
  2. Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
  3. Prinsip – Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah gizi muncul akibat masalah ketahanan pangan ditingkat rumah tangga ( kemampuan memperoleh makanan untuk semua anggotannya ), masalah kesehatan, kemiskinan, pemerataan, dan kesempatan kerja. Indonesia mengalami masalah gizi ganda yang artinya sementara masalah gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh sudah muncul masalah baru. Masalah gizi di Indonesia terutama KEP masih lebih tinggi daripada Negara ASEAN lainnya.Sekarang ini masalah gizi mengalami perkembangan yang sangat pesat, Malnutrisi masih saja melatarbelakangi penyakit dan kematian anak, meskipun sering luput dari perhatian. Sebagian besar anak di dunia 80% yang menderita malnutrisi bermukim di wilayah yang juga miskin akan bahan pangan kaya zat gizi, terlebih zat gizi mikro Keadaan kesehatan gizi tergantung dari tingkat konsumsi yaitu kualitas hidangan yang mengandung semua kebutuhan tubuh. Akibat dari kesehatan gizi yang tidak baik, maka timbul penyakit gizi, umumnya pada anak balita diderita penyakit gizi buruk

Hubungan antara kecukupan gizi dan penyakit infeksi yaitu sebab akibat yang timbal balik sangat erat. Berbagai penyakit gangguan gizi dan gizi buruk akibatnya tidak baiknya mutu/jumlah makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh masing – masing orang. Jumlah kasus gizi buruk pada balita yang ditemukan dan ditangani tenaga kesehatan

Masalah gizi semula dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya dapat ditanggulangi dengan pengobatan medis/kedokteran. Namun, kemudian disadari bahwa gejala klinis gizi kurang yang banyak ditemukan dokter ternyata adalah tingkatan akhir yang sudah kritis dari serangkaian proses lain yang mendahuluinya

Gizi seseorang dapat dipengaruhi terhadap prestasi kerja dan produktivitas. Pengaruh gizi terhadap perkembangan mental anak. Hal ini sehubungan dengan terhambatnya pertumbuhan sel otak yang terjadi pada anak yang menderita gangguan gizi pada usia sangat muda bahkan dalam kandungan. Berbagai factor yang secara tidak langsung mendorong terjadinya gangguan gizi terutama pada balita. Ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan, prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu, adanya kebiasaan/pantangan yang merugikan, kesukaan berlebihan terhadap jenis makanan tertentu, keterbatasan penghasilan keluarga, dan jarak kelahiran yang rapat

Keadaan gizi masyarakat akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan umur harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan keberhasilan pembangunan negara yang dikenal dengan istilah Human Development Index ( HDI )..
Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama yaitu kurang gizi makro dan kurang gizi mikro Kurang gizi makro pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan  asupan energi dan protein. Masalah gizi makro adalah masalah gizi yang utamanya disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan energi dan protein. Kekurangan zat gizi makro umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro

Kurang gizi menyebabkan gangguan pertumbuhan  dan perkembangan fisik maupun mental, mengurangi tingkat kecerdasan, kreatifitas  dan produktifitas penduduk. Timbulnya krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan  penurunan kegiatan produksi yang drastis akibatnya lapangan kerja berkurang dan pendapatan perkapita turun. Hal ini jelas berdampak terhadap status gizi dan kesehatan masyarakat karena tidak terpenuhinya kecukupan konsumsi makanan dan timbulnya berbagai penyakit menular akibat lingkungan hidup yang tidak sehat.

B. Tujuan

  1. Tujuan Umum

Tujuan dari penulisan makalah presentasi ini adalah ingin memberitahukan kepada masyarakat hal – hal apa saja yang menjadi ruang lingkup dari masalah gizi buruk, menambah pengetahuan bagi masyarakat agar lebih luas wawasannya mengenai gizi buruk, memberitahukan jumlah penurunan penderita gizi buruk dari tahun 2004 – 2007, memberikan gambaran yang jelas mengenai penyakit gizi buruk, juga tidak lupa untuk menambah nilai mahasiswa, dan lain – lain yang bisa berdampak positif bagi penulis dan para pembaca.

– Terlaksananya kegiatan penanggulangan balita gizi buruk tingkat Kabupaten,  Puskesmas dan Rumah Tangga

  1. Tujuan Khusus

– Meningkatkan cakupan deteksi dini gizi buruk melalui penimbangan bulanan balita di posyandu

– Meningkatkan cakupan dan kualitas tatalaksana kasus gizi buruk di puskesmas/RS dan rumah tangga

– Menyediakan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) kepada balita kurang gizi dari keluarga miskin

– Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak (ASI/MP-ASI)

– Memberikan suplementasi gizi (kapsul Vit.A) kepada semua balita

  1. Strategi

– Revitalisasi posyandu untuk mendukung pemantauan pertumbuhan

– Melibatkan peran aktif tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan kelompok potensial lainnya.

– Meningkatkan cakupan dan kualitas melalui peningkatan keterampilan tatalaksana gizi buruk

– Menyediakan sarana pendukung (sarana dan prasarana)

– Menyediakan dan melakukan KIE

– Meningkatkan kewaspadaan dini KLB gizi buruk

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energy, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Sekarang gizi memiliki pengertian yang lebih luas dismaping untuk kesehatan, gizi juga diakitkan dengan poten si ekonomi sesorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemmapuan belajar, dan produktifitas kerja (sunita, 2002)

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat – zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ – organ serta menghasilkan energi.

(Departemen kesehatan, 1998 )

B. Macam-macam gizi

Menurut bawali, dkk (2004) zat-zat makanan yang diperlukan leh tubuh dapat dikelompokkan menjadi 5, yaitu : karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.

a. Karbohidtat

b. Protein

c. Lemak

d. Vitamin

e. Mineral

C. Kebutuhan gizi balita

Kebutuhan gizi tidak sama bagi semua orang, tetapi tergantung banyak hal antara lain umur (soekirman, 2000). Dibawah ini adalah angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan pada bayi dan balita (per orang per hari)

Kebutuhan zat gizi balita berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) rata-rata per hari

Golongan umur

Berat badan(K)

Tinggi badan(cm)

Energy (Kkal)

Protein (g)

Vitamin A

Besi/ Fe(mg)

0-6 bulan

5.5

60

560

12

350

3

7-12 bulan

8.5

71

800

15

350

5

1-3 tahun

12

90

1250

23

350

8

4-6 tahun

18

110

1750

32

460

9

Sumber : krisnatuti (2000)asydad & achmadi (2006), arief (2009),

Kebutuhan gizi menurut proverawati dan asfuah (2009) adalah :

a. Kebutuhan gizi bayi

Keutuhan gizi bayi berbeda dengan kebutuhan anak dan dewasa. Bayi memerlukan karbohidrat dengan bantuan amylase untuk mencerna bahan makanan yang berasal dari zat pati. Protein yang diperlukan dari ASI. Lemka diperlukan 58% dari kalori total susu matur. Mineral ang diperlukan pada masa ini terdiri dari kalsium, phosphor, klor, kalium, dan natrium yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sedangkan untuk vitamin bervariasi sesuai diet ibu. Setelah umur 6 bulan bayi dberikan makanan pendamping ASI yang merupakan makana peralihan dari ASI kemakanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI dilakkan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan bayi dan anak.

b. Kebutuhan gizi balita

Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Perilaku makan ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologis, keshatan dan osial anak. Oleh karena itu keadaan lingkungan dan sikap keluarga merupakan hal yang sangat penting dalam pemberian makanan pada anak agar anak tidak cemas dan khawatir terhadap makanannya. Sehingga pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering.

c. Kebutuhan gizi balita

Kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkrakan cukup untuk memelihara kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis kelamin, aktifitas, berat badan, tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan pengeluaranya harus ada keseimbangan sehingga diperoleh gizi yang baik.

D. Faktor yang mempengaruhi status gizi kesehatan balita menurut hidayat (2009) adalah :

a. Kesehatan dan asupan gizi

Makanan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari oleh kaena itu kita memerlukan makanan yang dapat memenuhi semua kebutuhan.

Makanan bergizi tidak harus mahal dan lezat, tapi cukup mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh. An cara pemasakan yang terlalu lama akan membuat kandungan gizi didalam sayuran akan hilang. Beberapa zat yang diperlukan oleh tubuh antara lain, karbohidrat, lemak, protein ,air mineral, vitamin, dan banyak lagi. Oleh karena iu makanan yang dibutuhkan tidak hanya mengenyangkan tetapi menyehatkan. (http://yellashakti.files.wordpress.com)

b. Kesehatan lingkungan sekitar

Keadaan lingkungan yang kurang bersih dapat mengakibatkan anak udah sakit-sakitan, sehingga kebutuhan gizi anak terganggu (http://www.parentsguide.co.id)

c. Kesehatan bawaan anak

Selain karena makanan, anak yang kurang gizi bias juga dikarenakan adanya penyakit bawaan misalnya, penyakit jantung dan paru-paru (http://www.parentsguide.co.id)

E. Kartu menuju sehat (KMS) dan Bawah Garis Merah (BGM)

1. Kartu Menuju Sehat (KMS)

Kartu menuju sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter. KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian makan pada anak. KMS-Balita juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatannya (Rosmawati, 2008).

KMS untuk balita adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan. Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita dirumah, dan harus dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter (hidayat, 2009)

2. Pemantauan pertumbuhan balita

KMS tidak dipakai untuk mengukur status gizi tapi untuk mengetahui dan memantau pertumbuhan anak. Berbeda dengan KMS yang diedarkan Depkes RI sebelum tahun 2002, garis merah pada KMS versi tahun 2002 bukan merupakan pertanda gizi buruk, melainkan garis “kewaspadaan” (Arisman, 2004).

Dalam petnjuk teknis Standar Pelayanan Minimal (SPM) penyelenggaraan perbaikan Berat badan balita di bawah garis merah (BGM) artinya pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan. Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T) artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit.

Dalam petunjuk teksnis tandar pelayanan minimal SPM penyelenggaraan perbaikan gizi masyarakt depkes RI (2004) pemantauan balita dibagi menjadi 2 hal :

a. Balita ang naik berat badanya

Balita yang naik berat badanya (N) adalah balita yang ditimbang 2 bulan berturut-turut naik berat badanya dan mengikitu garis pertumbuhan pada KMS

b. Balita bawah garis merah

adalah balita yang ditimbang berat badanya berada pada garis merah atau dibawah garis merah pada KMS

3. Manfaat KMS-Balita adalah (Rosmawati, 2008) :

a. Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.

b. Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak.

c. KMS juga dapat dipakai sebagai bhan penunjang bagi petuga kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan, atau memulihkan kesehatanya.

d. Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.

4. Cara memantau pertumbuhan balita

a. Balita naik berat badanya : garis pertumbhanya naik mengikuti salah satu pita warna, garis pertumbuhanya naik dan oinah kepita warna diatasnya

b. Balita tidak naik berat badanya bila :

Garis pertumbuhanya turun, atau garis pertumbuhanya mendatar atau garis pertumbuhanya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.

c. Berat badan balita dibawah garis merah artinya :

Pertumbuhan balita mengalami ganguan ppertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sebagai harus langsung dirujk kepuskesmas/ rumah sakit.

d. Berat badan balita tiga blan berturut-turut tidak naik (3T), artinya

Balita engalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk kepuskesmas/ rumah sakit.

e. balita tumbuh naik bila : garis BB anak naik setiap bulanya.

f. balita sehat, jika : berat badanya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah kepita warna diatasnya.

BAB II

SOAL KASUS

PENGKAJIAN I

Di posyandu melati desa penawangan terdapat 92 balita, 20% mengalami masalah gizi, 35% dalam 2 bulan terakhir mengalami masalah kesehatan, 75% orang tua tingkat pendidikan SD, 10 % SMP, 5% SMA dan PT. 82% orang tua balita tidak mengetahui tumbuh kembang balita, tingkat penghasilan keluarga rata-rata rendah.

PENGKAJIAN II

Di posyandu melati desa penawangan data akhir tahun yang menyatakan balita dengan BGM pada tahun 2007 (2,14%), tahun 2008 (25%) dan tahun 2009 adalah (2,1%) . dan jumlah balita BGM pada tahun 2011 (15%) dari bulan januari-september. Pada Bulan september puskesmas melati penawangan menempati urutan pertama dengan jumlah balita BGM 19, KEP 30 balita. Dari data Tersebut puskesmas melati memiliki prosentase balita KEP tertinggi pada bulan terakhir dimana target Balita KEP pada tahun 2011 yaitu (<5%) (dinkes kabupaten grobogan, 2011). Dan tingkat pendidikan orang tua juga rendah SD 150 orang, SMP 50 orang, SMA 20 orang dan PT. Dan 28 orang tua juga tidak mengetahui tumbuh kembang balita, tingkat penghasilan rata-rata rendah per bulan, 300 rb, kebayakan kuli bangunan, tukang ojek, petani

Awan Tag