Just another WordPress.com site

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Sosial Panti Asuhan adalah sekelompok masyarakat atau individu yang karena keadaan fisik, mental maupun sosial budaya dan ekonominya perlu mendapatkan bantuan, bimbingan dan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan, karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan mereka dalam memelihara kesehatan dan keperawatan terhadap dirinya sendiri.

Panti Asuhan merupakan sebuah lembaga sosial untuk menampung anak – anak yatim, anak terlantar yang hidupnya tidak terurus dan tinggal di jalanan sebagai tempat untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya, dan supaya mereka terpenuhi kebutuhannya baik fisik, rohani dan sosialnya.

Dengan demikian, jelaslah di dalam Panti Asuhan tidak hanya melakukan pembinaan dan pengembangan terhadap potensi yang dimiliki oleh anak – anak tersebut, namun yang lebih penting adalah mengumpulkan mereka untuk diberikan hak hidup secara wajar sebagai warga negara yang sudah merdeka.

Anak – anak terlantar yang hidupnya di jalanan adalah rata – rata anak usia dini yang usianya berkisar 6 – 18 tahun yang menggunakan sebagian besar waktunya di jalanan sebagai pekerja, apakah mereka masih ada kelaurga atautidak kita tidak ada yang tahu.

Pada hakekatnya anak yatim dan anak terlantar yang hidup di jalanan adalah sekelompok anak yang menjadi korban sistem pembangunan yang belum berprinsip pada kepentingan terbaik buat anak´.

( Depsos RI, 1998: 1 ).

B. Etiologi

Upaya di bidang keperawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan kepada kelompok – kelompok individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan kesehatan dan kesehatan serta rawan terhadap masalah tersebut yang dilaksanakan secara terorganisir dengan tujuan meningkatkan kemampuan kelompok dan derajat kesehatannya, mengutamakan upaya promotif dan preventif dengan tidak melupakan upaya kuratif dan rehabilitative yang ditujukan kepada mereka yang tinggal di panti dan kepada kelompok – kelompok yang ada di masyarakat, diberikan oleh tenaga keperawatan dengan pendekatan pemecahan masalah melalui proses keperawatan.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Ø Meningkatkan kemampuan dan derajat kesehatan kelompok untuk dapat menolong diri mereka sendiri ( self care ) dan tidak terlalu tergantung kepada pihak lain.

Ø Membimbing, membentuk kembali sikap dan perilaku mereka sesuai dengan nilai – nilai agama dan norma yang berlaku di masyarakat.

Ø Memberikan pengarahan, bimbingan yang bisa melekat pada diri anak – anak tersebut.

Ø Memberikan alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan ada supaya kelak memiliki masa depan yang baik di masyarakat umumnya, dan bagi dirinya.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan kelompok khusus sesuai dengan macam, jenis dan tipe kelompok.

b. Menyusun perencanaan asuhan keperawatan / kesehatan yang mereka hadapi berdasarkan permasalahan yang terdapat pada kelompok.

c. Penanggulangan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi berdasarkan rencana yang telah mereka susun bersama.

d. Meningkatkan kemampuan kelompok khusus dalam memelihara kesehatan mereka sendiri.

e. Mengurangi ketergantungan kelompok khusus dari pihak lain dalam pemeliharaan dan perawatan diri sendiri.

f. Meningkatkan produktivitas kelompok khusus untuk lebih banyak berbuat dalam rangka meningkatkan kemampuan diri mereka sendiri.

g. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan dan keperawatan dalam menunjang fungsi puskesmas dalam rangka pelayanan kesehatan mayarakat.

D. Kriteria

Adapun Kriteria Anak Yatim dan Anak Terlantar yang Hidupnya di Jalanan antara lain :

a. Berusia sekitar 6 – 15 tahun

b. Laki – laki maupun perempuan

c. Masih sekolah dan putus sekolah

d. Tinggal dengan orang tua atau tidak

e. Mempunyai aktivitas di jalanan ataupun tidak, yang aktivitasnya seperti berjualan asongan, jual koran, bahkan jadi buruh, dan masih banyak jenis pekerjaan yang lainnya

( Depsos RI, 1993: 3 ).

Kriteria Umum tersebut Tercakup dalam Kategori sebagai berikut:

a. Anak – anak yatim dan anak terlantar yang hidupnya di jalanan, yakni anak yang sudah putus hubungan dengan orang tuanya dan tidak sekolah terlebih bagi mereka yang anak yatim yang keluarganya tidak mampu.

b. Anak yatim bekerja di jalanan, yakni anak – anak yang berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya, baik yang masih sekolah maupun yang tidak sekolah.

c. Anak – anak yang walaupun tinggal sama orang tuanya namun sudah mencari nafkah di jalanan yang bukan tidak mungkin mereka akan putus sekolah.

Sedangkan Ciri – Ciri Fisik dan Psikisnya antara lain sebagai berikut :

a. Penampilan kusam tak karuan

b. Beraktivitas di jalanan

c. Tingkat kemandiriannya tinggi

d. Kreatif dan banyak akal

e. Tidak mudah tersinggung

f. Terbuka dalam berpendapat

g. Berani menentang

h. Serius dalam mengerjakan sesuatu, dan

i. Polos dalam bersikap

E. Sasaran

Ada dua sasaran pokok pembinaan yaitu melalui institusi – institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap kelompok khusus dan pelayanan kelompok khusus di masyarakat yang telah terorganisir secara baik.

F. Ruang Linkup Panti Asuhan

1. Penghuni Panti

Merupakan prioritas utama karena mereka yang rawan terhadap masalah kesehatan dan umumnya merekalah yang bermasalah baik secara individu maupun kelompok. Dalam mengatasi permasalahan perlu kolaborasi dengan profesi kesehatan lain maupun dengan petugas – petugas terkait.

2. Petugas Panti

Merupakan orang yang setiap berhubungan langsung dengan pelayanan penghuni panti dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi dan merekalah yang paling mengetahui.

3. Lingkungan Panti

Merupakan salah satu mata rantai penyebaran penyakit.

G. Ruang Lingkup Kegiatan

1. Pelayanan kesehatan dan keperawatan.

2. Penyuluhan kesehatan.

3. Bimbingan dan pemecahan masalah terhadap anggota kelompok, kader kesehatan dan petugas panti.

4. Penemuan kasus secara dini.

5. Melakukan rujukan medic dan kesehatan

6. Melakukan koordinasi dan kerja sama dengan masyarakat, kader dan petugas panti atau pusat – pusat rehabilitasi kelompok khusus.

7. Alih tegnologi dalam bidang kesehatan dan keperawatan kepada petugas panti, kader kesehatan.

H. Faktor yang Menyebabkan Adanya Anak – Anak Yatim yang Hidupnya Terlantar

Baik di kota maupun di desa yang namanya anak terlantar hidup di jalanan pasti ada namun faktor nyalah yang berbeda, adapun faktor  pendorongnya lebih disebabkan pada masalah kebutuhan keluarga, dan ekonomi yang kian hari harganya makin tinggi dan sulit di jangkau oleh mereka yang kurang mampu. Bila di tinjau lebih jauh ada beberapa faktor  pendorong sehingga anak – anak terjerumus dalam kehidupan di jalanan dan menjadi gelandangan seolah – olah tidak mempunyai orang tua dan keluarga sama sekali yang mereka harapkan bisa memberikan perhatian dan kasih sayang buat mereka. Akibatnya anak tersebut hidup di jalanan yang disebabkan oleh adanya faktor intern ( dalam diri anak ) dan faktor ekstern ( dari lingkungan, keluarga dan orang tua ).

I. Upaya untuk Menanggulangi Adanya Anak Terlantar

Untuk menghindari memtindakan bengkaknya problem yang dihadapi anak – anak dan remaja, maka perlu diadakan pencegahan yang terarah, begitu juga dalam hal menanggulangi adanya anak – anak terlantar, maka dilakukan beberapa tindakan antara lain:

1. Tindakan Preventif

Usaha – usaha yang sifatnya preventif adalah usaha yang dapat dilakukan melalui pendidikan formal ( masyarakat ) :

a. Pembinaan pendidikan dalam keluarga ( informal )

Ø Menghindari perselisihan dalam keluarga.

Ø Mencegah anak – anak asuh kembali kekondisi semula yang tidak menentu.

Ø Mencegah anak – anak lain untuk tidak memasuki kandisi terlantar.

Ø Menanamkan pendidikan agama ( ahlak dan ibadah ) yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Ø Memelihara hubungan dan kasih sayang yang adil dan merata, antara sesama dalam keluarga.

Ø Memberikan program yang bermanfaat bagi anak sesuai dengan umur mereka.

Ø Memberiakan peranan dan tanggung jawab di antara para anggota keluarga.

b. Pembinaan Pendidikan di Sekolah ( formal )

Pendidikan di sekolah adalah salah satu pendidikan yang sangat penting bagi anak, karena pendidikan di sekolah mempunyai peran dalam membantu pembinaan sikap, mental, pengetahuan dan keterampilan anak. Sasaran pembinaan ini adalah tumbuhnya remaja – remaja yang dinamis, kritis dalam berpikir dan bertindak, keadaan ini akan memperkecil frekuensi terjadinya penyimpangan.

c. Pembinaan Pendidikan Non Formal ( masyarakat )

Masyarakat adalah tempat pendidikan yang ketiga setelah pendidikan rumah tangga dan sekolah. Pembinaan – pembinaan pendidikan kemasyarakan dimaksudkan untuk mengisi waktu senggang dengan mengadakan kegiatan yang bermanfaat. Hal itu dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan pendidikan kepramukaan, penyuluhan mental, agama, pendidikan keterampilan, pendidikan olahraga, usaha perluasan perpustakaan, palang merah remaja, karang taruna, remaja masjid, dan usaha – usaha lainnya

2. Tindakan Represif

Tindakan ini diartikan, tindakan secara hukum yang ditujukan kepada anak yang melakukan kenakalan yang melanggar hukum atau orang yang membantunya yang menjadikan anak tersebut melanggar hukum.

3. Tindakan Kuratif

Tindakan secara kuratif dan rehabilitasi, yaitu setelah usaha dan tindakan yang lain dilaksanakan, tindakan ini merupakan pembinaan khusus untuk memecahkan dan menanggulangi problem kenakalan remaja.

( Sahilun A, Nasir, 199: 90-94 ). 

Adapun Metode yang Layak digunakan Panti Asuhan dalam Menjangkau Anak – Anak tersebut yakni :

1. Metode Perkawanan

Dengan metode perkawanan ini bisa dilakukan dengan sangat mudah bagi mereka yang sudah tinggal di panti akan mengajak temannya yang lain dengan alasan untuk main – main saja dan di panti mereka sengaja diberikan keterampilan yang akhirnya lama kelamaan mereka betah tinggal di panti.

2. Child To Child ( Memperluas dan Pengembangan Jangkauan dari Anak ke Anak )

Dengan menggunakan metode ini dapat memperluas penjangkauan anak dengan mudah kita bisa mengetahui tentang keberadaan anak yang masih ada di luar panti yang hidupnya sehari – hari memprihatinkan, lalu anak tersebut akan bercerita kepada pembina panti, dan para pembina akan cepat dan mudah mendatangi anak tersebut untuk diajak ke panti dengan tujuan agar anak tersebut bisa mendapatkan perhatian yang layak.

3. Konsling

Metode ini adalah cara yang terbaik, karena dengan menggunakan metode ini pembimbing bisa secara langsung terjun ke lokasi dimana mereka yang tempat tinggalnya tak menentu dapat diberikan pendekatan dan nasehat – nasehat yang bisa mereka terima, sehingga dengan sendirinya mereka akan datang ke panti.

J. Kendala – Kendala yang di Hadapi Panti Asuhan dalam Pembinaan Anak Yatim dan Anak Terlantar antara lain:

1. Anak Yatim dan Anak Terlantar

Sebagian besar mereka rata – rata anak – anak yang berusia dini yang tidak sewajarnya mereka harus bekerja di luar sana yang mengakibatkan mereka tidak mengenal sekolah, bahkan tidak pernah sekolah. Jadi kendala yang di hadapi panti asuhan secara umum adalah Usia mereka yang terlalu dini yaitu 7 – 12 tahun.

2. Orang Tua dari Anak Terlantar

Adapun kendala panti dalam menghadapi penjangkauan orang tua dari anak – anak terlantar timbul karena sebagian kondisi orang tua mereka yakni :

Ø Terjadinya broken home di dalam keluarga ( perceraian ).

Ø Perialku orang tua yang sulit untuk diteladani oleh anaknya, seperti suka berjudi, mabuk – mabukan, dan yang lain – lainnya.

Ø Sumber daya manusia, dan ekonomi yang terbatas seperti harga sembako yang terus naik.

3. Masyarakat

Kendala yang dihadapi panti terkait juga dengan masyarakat, mereka berasumsi bahwa anak – anak tersebut akan menyusahkan mereka dan akan melakukan hal – hal yang bersifat negatif, karena mereka hanya melihat dari luar saja. Sebenarnya anak – anak tersebut memiliki jiwa yang bersih, tulus, penyayang, pekerja dan periang. Di sinilah saatnya kita sebagai warga harus saling bantu, saling kenal, saling isi, dan yang lainnya antar sesama.

K. Upaya – Upaya Panti Asuhan dalam Penanggulangan untuk Anak – Anak di Panti terutama Anak – Anak yang Terlantar

1. Panti Memberikan Perhatian dan Dukungan Psikologis

Langkah ini dimaksud untuk mendukung perkembangan anak secaramental dan mengarahkan mereka untuk bersifat dan berperilaku yang sopan dan sesuai dengan norma yang ada di desa / lingkungan tersebut.

2. Memberikan Pendidikan Non Formal

Pendidikan non formal yang panti asuhan ini selenggarakan bertujuan untuk mengembangkan kreativitas anak. Materi pendidikan non formal ini menggunakan ekspresi, artinya di sini seperti menggambar, mengarang, dan bercerita. Kegiatan ini dilakukan di panti, hasil karya mereka kebanyakan mengungkapkan pengalaman mereka sehari – hari yang akan merangsang pikiran mereka dengan pertanyaan – pertanyaan saat mereka berkarya. Panti asuhan juga mendirikan sebuah perpustakaan yang di kelola oleh anak – anak panti dengan di dampingi oleh para pembina. Di sini juga diajarkan pembinaan keagamaan yang akan bisa menjadikan mereka menjadi anak – anak yang beriman dan bertaqwa.

3. Paket Beasiswa

Di sini semua biaya anak – anak panti di tanggung oleh panti asuhan sendiri agar mereka tidak mengalami putus sekolah.

4. Keterampilan

Paket ini dilakukan supaya nantinya mereka ada kegiatan / ilmu yang harus diteruskan. Dan supaya kelak mereka menjadi anak – anak yang berbakat dan mempunyai pegangan hidup bagi mereka.

L. Tahap – Tahap Keperawatan

1. Tahap persiapan

2. Tahap perencanaan

3. Tahap pelaksanaan

4. Tahap penilaian / evaluasi

 

 

BAB II

SOAL KASUS

Pengkajian tahap ke – 1 didapatkan data berikut :

Di panti asuhan Suka Maju terdapat 269 anak, yang seharusnya kapasitas di panti itu adalah 160 orang. Kamar mandi dan wc hanya terdapat 7. Dalam 1 bulan terakhir terdapat 25% mengeluh penyakit kulit. 15% mengeluh penyakit yang lain. Sumber air bersih kurang. Didapatkan data sebagai berikut :

· Terdapat 269 anak dipanti asuhan, yang seharusnya kapasitanya 160 orang

· Tempat tidur berdesakan

· Kamar mandi kurang memadai

· Jumlah kamar mandi kurang

· Jumlah anak yang mengeluh penyakit kulit ( 67 anak / 25% )

· Jumlah anak mengeluh penyakit yang lain ( 40 anak / 15% )

Pengkajian tahap ke – 2 didapatkan data sebagai berikut :

Anak – anak dipanti sering mengalami gatal – gatal dikarenakan lingkungan panti yang kotor, 25% mengeluh gatal, keterbatasan kamar mandi juga mempengaruhi kebersihan anak panti, 5% anak mengaku jarang mandi.

Didapatkan data sebagai berikut :

1. Anak – anak panti menderita gatal – gatal ( 67 anak / 25% )

2. Kebersihan kamar mandi kurang memadai

3. Jumlah anak yang jarang mandi ( 13 anak / 5% )

4. Jumlah anak yang mengeluh penyakit diare ( 13 anak / 5 % )

5. Jumlah anak yang mengeluh demam ( 27 anak / 10 % )

6. Lingkungan panti kotor

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Nashin Ulwan. 1996. Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Anak . Cet 3. Pen. PT.Remaja Rosdakarya

Abdullah Nashin Ulwan. 1992. Mengembangkan Kepribadian Anak. Bandung. Pen.Remaja Rosdakarya.

Andoeson T. Elizabeth & Mc Farlane. 2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik edisi 3. EGC. Jakarta

Depsos RI. 1999. Petunjuk Teknis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan.Jakarta: Direktorat Bina Kesejahteraan Sosial Anak, Keluarga dan LanjutUsia.

Depsos RI. 1999. Petunjuk Teknis Kemitraan Depsos Dengan Lembaga Sosial  Kemasyarakatan ( LKS ). Jakata : Direktorat Bina Keesjahteraan Sosial Anak, Keluarga dan Lanjut Usia.

M. Ngalim Purwanto. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung . Pen. PT. Remaja Rosdakarya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: